Rabu, 31 Desember 2014

Cerpen anak-anak



Gadis Berkepang Dua


            Gadis kecil nan periang itu berlari mengejar kupu-kupu dan capung, dari kejauhan Sang ibu hanya mampu memandangnya sambil tersenyum. Tak jarang Ia mengajak kawannya untuk berkejaran dan membuat pertandingan aneh. Gadis kecil ini juga sering membuat sang ibu kerepotan menjawab pertanyaan demi pertaanyaan yang disampaikan putrinya ini. Ibu ini apa? Atau Ibu itu untuk apa? Dan bagaimana bisa terjadi hal itu? Namun ini menjadi hal yang menarik.
            “Ibu, aku lelah. Aku istirahat sebentar ya Bu. Oh lihat burung-burung itu, indah sekali. Dan lihat itu Bu, senja kali ini sangat menyejukkan.” Ujar anaknya.
            “Iya Nak, senja kali ini indah sekali. Ingin pulang sekarang?”
            “Tidak, sebentar Bu. Oh ya, kenapa senjanya cepat berlalu, bukankah hal indah seperti ini jarang terjadi? Lalu kenapa pula burung-burung diatas terlihat takut, bukankah mereka sudah aman?”
            “Pelan-pelan Nak, ibu bingung harus menjawab bagian mana terlebih dahulu. Mengapa banyak pertanyaan dari mulut kecilmu ini sayang.” Sembari mencubit lembut bibir anaknya.
"Ibu, kenapa langit itu biru? tapi ketika malam berubah menjadi gelap?" Tanya anaknya.
“Tahukah Nak, semuanya tentu harus seimbang. Ada terang ada gelap, ada matahari ada bulan, ada laki-laki ada wanita, ada senang juga ada sedih.”
“Benarkah Bu? Bukankah seharusnya kita selalu tersenyum, seperti aku ini,” Menyeringai menunjukkan giginya yang tak genap.
“Suatu hari kau pasti akan paham apa maksud ibu. Lihat banya burung kecil yang cantik dan banyak sekali.”
“Wah iya, aku akan terbang Bu. Suatu hari nanti.”
“Tentu kamu bisa Nak, kau pasti bisa terbang,” membelai rambut anaknya.
“Ibu Pasti bergurau, kaki ku kan pendek. Maksimal aku hanya bisa melompat Bu.”
“Suatu hari sayang, bagaimana kalau kita minum coklat panas? Sepertinya senja sudah hampir menghilang.”
Gadis kecil itu mengangguk setuju dan berlari memasuki rumah.
Seiring perputaran waktu dan hilir mudik angin semuanya beradaptasi. Membayangkan masa kanak-kanak dan menelaahnya saat kita memahami arti dari apa yang telah dilakukan maupun yang dilakukan orang lain pada kita. Meski itu hanya ocehan dan perilaku yang kanak-kanak, justru itu yang melekat dihati.
Suatu sore yang pekat gadis kecil itu berlari. Ia lari penuh arti dan tidak ingin melewatkan yang satu ini.
“Hei, bisakah kamu menungguku? Aku terlalu lelah untuk berlari menyusulmu.”
“Ayolah, ini terlalu mudah untuk gadis sepertimu. Kamu kan pelari.”
“Hei aku kan hanya sekedar pelari untuk mengejar kupu-kupu dan capung. Tapi kalau ini bukankah permainan laki-laki.”
“Apa bedanya? Ini lebih menyenangkan bukan. Ayolah, ini hampir sampai,” ujar Tiar.
Gadis kecil itu mengejar ketertinggalannya hingga rintik air menghentikan langkah mereka. Hujan perlahan, angin berhembus dan untuk kali ini awan benar-benar tak bersahabat. Gadis kecil itu berteriak memanggil Tiar yang belum jauh darinya.
            “Tiar, ayolah kita pulang saja. Ini bisa membuat kita sakit, aku juga takut dengan kilat.”
            “Baiklah, tapi kita ambil daun pisang dahulu ya?” sembari menarik tangan temannya.
Gadis kecil itu mengikuti Tiar di belakangnya, walau Ia sudah basah kuyup. Setibanya di rumah, ibu gadis kecil itu menghawatirkan keadaan anaknya.
            “Nak, kamu dari mana saja? Apa kau menyukai permainan hari ini?” Tanya ibunya sembari tersenyum.
            “Ibu, apa ibu tidak marah dengan keadaanku yang basah kuyup seperti ini karena bermain?”
Pertanyaan yang muncul dari anaknya membuat Sang Ibu tersenyum. Beliau justru memberikan handuk untuk Tiar dan anaknya.
“Bagaimana ibu mau marah, kau terlihat menikmatinya. Bahkan kalihatannya Tiar juga demikian, benar kan Nak Tiar? Terima kasih juga sudah mengantar Nina pulang.”
Tiar hanya tersenyum dan mengangguk takut.
            “Sama-sama Bu, lagi pula dia sangat bersemangat, jadi aku mengajaknya. Apakah Ibu tidak marah?”
            “Tentu saja tidak, apapun yang dilakukan anak di seusia kalian pastilah murni keinginan hati. Bukanlah hal-hal palsu, berpura-pura. Kalian lebih tahu mana yang manis dan pahit.”
            “Tentu Bu, aku kan lebih suka coklat daripada pare, itu sangat pahit.”
            “Nak Tiar, kalian tahu tidak mengapa kalian basah dan berlari pulang?”
            “Tentu Bu, karena hujan dan Nina takut akan angin dan juga petir
            “Nah, sama halnya dengan manis dan pahit. Kalau kalian merasa pahit kalian akan mencari hal yang manis.”
Mereka saling memandang dan bingung hingga Tiar berpamitan untuk pulang.
Kenangan akan ilmu tak lekang oleh hilangnya seseorang. Meski waktu tak sama lagi, meski dunia tak sama lagi dan meski telah beranjak dewasa. Terkadang menggunakan cara lama adalah cara yang baik.
            Suatu siang dimana gadis itu berumur 10 tahun, ia berbaring di pangkuan ibunya dan lagi gadis itu bertanya pada sang ibu.
            “Ibu kalau aku besar nanti apa semuanya tetap menyenagkan seperti ini?”
            “Tentu saja, kalau kau merasa senang, maka semuanya juga akan menyenangkan.”
            “Tapi terkadang aku juga menangis dan marah apabila ada temanku yang jail Bu,” ujar Nina.
            “Nak, kamu ingin dikuncir seperti apa? Rambutmu ini membingungkan.”
Gadis itu hanya memandang ibunya dan mengatakan ingin dikuncir yang sederhana saja. Namun belum lama gadis itu meminta untuk dikuncir, ia meminta ibunya untuk mengepang.
            “Lebih sederhana kepang Bu, aku tidak suka di aneh-aneh,” bangkit dari berbaringnya.
            “Nah sama halnya, kalau kamu ingin marah, menangis karena suatu hal tidak apa-apa, asalkan jangan berlarut-larut. Cepat tuntaskan dan rapikan hatimu dengan caramu supaya tidak cepat kusut seperti rambut ini Nak.”
            “Hah, apa yang kusut ibu. Aku tidak paham maksud ibu.”
            “Suatu saat kau akan mengerti Nak, cepat kita kuncir rambutmu.”
            Belum lagi pertanyaan lucu ketika beranjak remaja terkadang membingungkan
            “Ibu apa aku ini tidak cantik?” Tanya anaknya
            “Kenapa kamu berbicara seperti itu sayang? Lebih baik kita menikmati hujan malam ini.”
            “Ibu aku ini hampir 15 tahun, tapi mengapa …” tidak meneruskan perkataanya.
            “Nak semua wanita itu cantik, dan kamu cukup cantik bagi ibu. Kamu baik, penurut, sopan. Apa ada kecantikan yang kurang dari dirimu Nak?”
            “Entahlah Bu, aku hanya merasa dikucilkan oleh teman-teman.”
            “Kamu hanya perlu membiasakan diri dengan perilaku mereka. Kamu adalah anak yang beruntung, saat kau menyadarinya mungkin kamu telah jaun dari ibu.”
            “Ibu jangan berbicara seperti itu, aku akan cepat menyadarinya Bu,” gadis kecil kini telah beranjak remaja dan mulai mencermati setiap tanya hati yang dijawab ibunya.
            Saat kehidupan memutarmu pada posisi ini terkadang kita terlalu cepat menafsirkannya, sehingga seringkali terjebak pada permainan hati. Dimana menyadari beberapa hal, apa yang telah terjadi sekali tidak akan terulang untuk kedua kalinya.
            “Ibu, Tiar akan pindah minggu depan. Nanti kalau aku merindukannya bagaimana?”
            “Nak, kamu khawatir akan apa? Kalian masih bisa berkomunikasi dengan surat bukan?”
            “Iya Bu, tapi tetap saja. Aku tidak tahu harus memberinya apa?” Nina merasa ini terlalu cepat.
            “Temui dia sayang, katakan apa yang ingin kamu katakan sebelum dia pergi.”
Tanpa berpikir lagi, gadis itu berlari ketanah lapang dan menemukan Tiar sedang bermain gundu.
            “Tiar, kamu benar ingin pindah? Kenapa cepat sekali?”
            “Nina, kamu kenapa basah kuyup seperti dikejar setan? Kamu duduk dulu deh ya.”
            “Baiklah, tapi aku hanya ingin memberikan ini,” memberi Tiar sebuah gantungan kunci.
Begitu pula dengan Tiar yang member gantungan kunci Micky Mouse. Mereka tertawa dan melanjutkan permainan.
            Gadis itu lebih memilih tak menghadiri pesta kepindahan Tiar. Entah apa yang gadis itu pikirkan, Ia hanya tidak ingin melihat perpisahan itu. Namun tidak terelakan bahwa gadis itu menyesal tidak melepas kepergian sang sahabat.
            Begitulah penyesalan datang, dan keinginan untuk memutar waktu muncul yang telah terbukti itu tidak mungkin. Meski langkahnya mundur sekuat tenaga.
            Lika-liku hidup memang menyenangkan. Kau berlari kemari mengejar kupu-kupu dan capung. Tak lama setelah itu kau berlari karena menangis dan kacau. Seiring waktu bergulir berlari untuk kekhawatiran. Tapi kini gadis itu beranjak dewasa. Ia tidak lagi berlarian dengan senyuman ketakutan, ia berlari dengan pasti.
            Tanpa disadari sang ibu memberikan banyak jawaban disaat Ia belum membutuhkannya. Dan kini ia hanya perlu mengingat bagaimana mengepang rambut agar tidak kusut. Merasakan pare yang pahit hingga bisa menikmati manisnya coklat. Dan mengatakan yang seharusnya dikatakan dan melakukan hal yang ingin ia lakukan.
            “Ibu, lihatlah bintang diatas sana. Indah sekali. Kini aku mengerti mengapa ibu mengatakan semuanya membutuhkan keseimbangan. Bagaimana mungkin aku melihat senja sepanjang waktu, tentu aku akan melewatkan pemandangan indah ini seumur hidupku. Bagaimana aku hanya bisa melompat kalau aku bisa terbang setinggi awan untuk mewujudkan segala mimpi dan harapan ibu.”
            “Aku juga merasa beruntung karena aku tidak cantik secara fisik seutuhnya. Karena aku melihat dunia yang penuh dengan kecantikan ini menyimpan hal buruk yang menakutkan di dalamnya. Lihatlah ibu, siapa yang telah terbangun dari pertanyaan kanak-kanak dan memahaminya satu persatu. Aku berhasil Bu.” Nina tersenyum mengingat hal-hal yang ingin dipahaminya sejak dulu.
Gadis kecil periang pecinta lari kini telah dewasa dengan pemahaman yang baik akan ucapan ibunya. Terkadang ucapan kecil terlewatkan begitu saja bersama lalu lalang dunia hura-hura. Mementingkan apa kata orang tapi tak mementingkan wejangan dari orang yang benar mengerti kita.
            Gadis berkepang dua, simbol kecil untuk anak lugu yang memulai kehidupan baru dengan apa adanya, dengan sejuta pertanyaan hidup di dalamnya. Saat fase ini dimana hal sepele adalah hal yang sangat dirindukan semua orang.

Cerpen Remaja



Anime dan Gitar

Kali ini aku tak seberuntung hari biasanya. Bagaimana tidak aku harus jalan kaki untuk berangkat les, kawan ku hari ini sakit jadi aku saja yang harus berjalan. Aku memutar otak agar aku tidak berjalan lagi dikeesokan harinya. Mata ini menyapu seisi kelas, dan Bingo aku dapat teman yang searah dengan tempat les ku.
            “Fafa, kamu sehabis pulang sekolah mau langsung pulang?”
            “Eh kamu panggil aku?” jawabnya.
            “Ya iyalah Fafa, siapa lagi yang namanya Fafa disini?”
Dia hanya tertawa tanpa dosa. Aku meminta tolong kepadanya untuk mengantarku ke tempat les. Kalau jalan lumayan buat seluruh badan berkeringat lah. Karena memang sifatnya yang baik tentu saja aku diantarnya. Sepanjang perjalanan dia tidak habis-habisnya bercerita anime itu keren, anime itu bagus dan ini itu yang tak kupahami.
            “Fafa kamu segitunya ya sama yang namanya Anime?” tanyaku penasaran
            “Yah begitu lah hanya untuk mengisi kekosongan saja. Tapi tetap lama kelamaan jadi ritual wajib.”
            “Apa ritualnya semacam mandi kembang begitu juga ya?”
            “Aduh Nita, kamu pura-pura tidak tahu apa memang kamu yang kebangetan?” Tanyanya sebal.
Aku menahan tawa mendengar jawaban dengan dengusan sebal. Setidaknya itu bisa membuatnya mengganti topik pembicaraan yang sedikit aku pahami, teknologi. Memang temanku yang satu ini benar-benar maniak dengan hal-hal semacam itu.
            Ku mainkan gitar di teras rumah sembari memandanggi rintik hujan yang luruh ke bumi, membasahi daratan menghembuskan aroma tanah basah yang menenagkan. Selalu ritual ini yang kulakukan ketika ku merenungkan sesuatu. Berbicara mengenai ritual aku teringat akan Fafa, mungkin dia sama maniaknya sepertiku yang maniak akan bermain gitar dan menghirup aroma tanah basah. Ku petikkan jemari hingga mengalun nada sendu,
“Ini bukan meratapi nasib, hanya butuh suasana tenang” ujarku dalam hati.
“Lalu ceritanaya sedang apa sekarang? Putus asa? Atau jatuh cinta?” ujar seseorang yang terdengar tak asing di telingaku.
“Kak Indra? Kok bisa sampai sini?” jawabku melonjak yang nyaris melempar gitar tersayangku.
“Eh eh kamu ini santai saja dong, seperti melihat artis saja. Iya sih aku cukup memadai.” Memicingkan mata genit.
Aku berlari kearahnya dan memandanginya tak percaya teman yang selama ini tak pernah ku lihat dan selalu kutanyakan keberadaannya justru kini mendatangiku. Aku hampir saja memukulnya karena merasa sebal, bagaimana bisa tanpa kabar selama 3 tahun.
            “Apa kabar?” tanyanya
            “Baik, tentu saja baik.” Jawab ku penuh semangat.
            “Harus selalu begitu bukan? Rasanya aku ingin menjambak itu rambut kamu Kak.”
            “Bagaimana kebiasaan burukmu itu tidak pernah hilang. Selalu menganiaya orang, apa tidak kasihan sama anak orang?”
            “Humm tidak tuh.” Jawabku santai.
Aku tertawa melihat ekspresi nya yang ketakutan saat aku mengatakan hal itu. Bagaimana tidak, ia selalu menjadi korbanku dalam kondisi apapun. Begitulah malam yang tak pernah ku sangka akan kehadiran teman sekaligus kakak yang cukup menyenangkan. Hening, menyenangkan bermain gitar dia bernyanyi.
Kabar sahabat baruku tentu bertambah baik saja, aku mulai senang mendengarkan ocehan tentang animenya itu. Terkadang lucu melihat ekspresi dia sebal karena aku ketawakan. Itu dia masih beruntung. Biasanya aku  kalau tidak ketiduran ya aku cuekin baca buku. Hari-hariku terasa sempurna masa itu, dimana ada seorang pemusik yang selalu mendetingkan gitarnya untuk adik tercintanya dan teman kocak yang selalu menceritakan kisah-kisah yang aku pahami dan kadang tidak aku pahami juga.
“Hei kamu sedang apa?” Tanya Fafa.
“Memang yang kamu lihat apa Fa? Jelas-jelas aku lagi main gitar.” Jawabku ketus.
“Yailah.. kan cuma bertanya saja, kok kamu jawabnya begitu banget.”
“Hahaha Fafa, aku kan gak seriusan. Memangnya kamu bisa main gitar.”
“Tentu saja, ya tapi masih tahap belajar.”
“Kalau begitu aku juga masih belajar Fa. Coba kamu main deh, aku mau denger orang pecinta anime seperti kamu bisa memainkan lagu apa saja?”
“Yahh tapi kalau tidak bagus jangan di ketawakan ya. Biasanya kan kamu begitu Nit.”
Aku hanya mengangguk dan memberikan gitarku kepada Fafa. Dia terlihat gugup dan mulai memetik dawai demi dawai. “Blamm” aku menganga di buatnya dengan lagu slow yang ia mainkan. Aku tahu lagu ini, tapi tidak seperti yang aku bayangkan kalau aku yang menyanyikan. Sampai ia selesai aku hanya terdiam.
            “Hai Nita, kamu sehat kan? Nita” Ujar Fafa melambai-lambaikan tangannya kearah wajahku membuyarkan kekaguman ini.
            “Oh hei ya, sehat kok Fa.”
            “Tadi aku mainnya jelek ya? Kamu sampai kesambet begitu?”
            “Oh eh, bukan Fa. Kamu mainnya keren. Justru lebih keren dari aku.”
            “Yang benar saja Nit, aku saja mainnya gerogi begitu. Takut diketawakan kamu Nit.”
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang berkeringat dingin seperti hendak mengikuti ujian.
            Di lain waktu Kak Indra menyambangiku lagi di saat aku sedang bermain gitar dan menyanyikan lagu kesukaan ku.
            “Malam Dek Nita. Boleh request tidak?” Sapa Kak Indra.
            “Eh, malam juga Kak, selalu saja membuatku terkejut. Request? Memang aku ini radio minta request segala.”
            “Sekali-kali deh, aku kan sudah lama tidak mendengarkanmu menyanyi. Biar bisa tidur, habis insom terus.”
            “Bagitu deh kelakuanmu Kak, menyebalkan. Oke deh tapi jangan berisik, dengarkan saja.”
Kak Indra hanya menganggukkan kepalanya dan menjadi pendengar yang baik untuk kali ini. Dia banyak berubah, setahun lalu ia masih sangat senang menggangguku ketika aku bermain gitar atau mengerjakan tugas. Aku sampai heran, seperti tak ada kegiatan yang menyibukkan dia selain menggangguku. Dari cara ia memandangku, memperlakukanku ah serasa teringat kejadian itu.
            “Dek, mau tidak aku ajak ke toko buku? Biasa anak kelas 3 harus banyak referensi begitu deh.” Pinta Kak Indra.
            “Kak, yang benar saja. Aku besok ada ujian harian matematika.”
            “Ayolah dek, aku bingung kalau harus ke toko buku dan hal-hal semacam itu. Tidak tahu mana yang harus kubeli pula.”
            “Tapi ulangan hariannya bagaimana?”
            “Yah itu urusan gampang kok, nanti aku ajarin sepulang dari toko buku.”
            “Siap rajanya matematika.”
Dia hanya berdehem sebal dengan julukan yang aku berikan dan menggeret ku naik bus.
            “Dek tahu tidak, kenapa aku paling suka mengajakmu daripada adik aku sendiri?”
            “Yaiyalah, adikmu kan masih berumur 7 tahun, tentu tidak bisa disuruh-suruh seperti aku kan. Disuruh bawa ini itu, dan yah seperti biasa yang bisa di kibulin.”
            “Bukan, karena aku nyaman kalau sama kamu.” Jawab Kak Indra tegas.
Aku tidak percaya dan mencoba memandangnya dengan tatapan tidak percaya dan heran.
            “Nita, kok kamu berhenti sih main gitarnya.”
            “Yee aku juga ngantuk kali Kak, lebih baik kamu pulang sana. Aku besok harus berangkat pagi-pagi.”
            “Wah mulai berani mengusir nih. Yasudahlah lagipula besok pagi aku juga harus kembali ke Yogyakarta lagi. Santai untuk kali ini aku tidak akan pergi lama-lama kok.”
            “Yee.. Pede banget si Kak, ya sudah aku mau tidur, mengantuk.” Masuk kedalam rumah
            Sembari berbaring diatas kasur aku memandangi langit-langit kamar yang terkesan berbeda, apa karena Kak Indra atau karena Fafa. Entahlah aku terasa takut dan ragu untuk menafsirkan ini semua. Fafa, dia.. aku terkesan dengan caranya memainkan gitar dan kemahirannya yang selalu membuat cerita lucu meski itu hanya aku saja yang tidak memahami cerita itu sehingga aku merasa apa yang ia ceritakan terkesan lucu. Dan hari-hariku di kelas dua ku ini tak tahu terasa menyenangkan dan mudah saja.
            “Apa yang aku pikirkan ini? Kenapa Fafa? Bagaimana bisa disaat Kak Indra sudah benar-benar ada di depan mata. Tapi, entahlah.” Menutupkan bantal ke wajah.
            Hal yang indah tak pernah di dapat dengan mudah, hal yang baik tak di dapat dengan cara licik. Dan aku menyukai sebuah proses yang dijalani pada setiap kehidupan, mengalir layaknya air terjun yang meluruh begitu saja mengikuti arus air, melewati keras dan terjalnya batu tapi mereka tetap memberi penghidupan hingga ke pelosok desa.
            “Nita, ini kau yang membuat?” Ujar Fafa yang tak sengaja menemukan kata-kata itu di dalam bukuku.”
            “Kamu, yang mana? Kamu membaca tulisan yang mana?”
            “Yang ini kok. Itupun tidak aku sengaja. Tapi bagus lho, aku suka.”
            “Lhoh, kamu suka dan paham dengan kata-kata seperti itu ya? Bukankah kamu?”
            “Apa? Anak pecinta anime? Ya memang di film dan komik-komik anime tidak mengandung pelajaran sama sekali? Justru banyak kata-kata semacam itu Nita.”
            “Wah aku baru tahu Fa, lagian kamu kalau cerita hanya bagian yang seru saja sih.”
            “Memangnya aku harus menceritakan detailnya? Kalau mau tahu ya baca sendiri saja komiknya. Aku punya banyak di rumah.”
            “Wahh itu dia Fa, aku bingung kalau harus baca komik. Tidak tahu cara membacanya.”
            “Hahaha aku baru tahu ternyata gara-gara tidak bisa cara membacanya bukan karena tidak suka?”
Aku hanya menyengir dan melanjutkan menulis lagi. Tapi Fafa terus saja ingin tahu apa yang aku tulis. Entah penyakit ingin tahunya yang besar membuat aku terkadang sebal dan ingin menjitak kepalanya sesekali.
            “Aku buatkan kata-kata dong Nita.”
            “Haha untuk apa? Untuk siapa?”
            “Kamu kan teman baik, pokoknya tentang cinta-cinta begitulah.”
Aku hanya menatapnya ragu dan heran. Apa yang ada dipikirannya hingga ia mengucapkan kata-kata yang belum pernah aku dengar.
            “Apa? Kamu ingin menyatakan perasaan kepada cewek yang kamu suka?”
Fafa hanya tersenyum dan menepuk pundakku dan berlalu ke tempat duduknya.
            Pena ini kembali berputar di atas kertas, aku pun tak tahu apa yang harus ku ukir di atas secarik kertas ini. Apa yang sedang Fafa pikirkan hingga ingin aku menuliskan kata-kata tentang cinta. Padahal aku saja tak paham apa itu cinta dan sepertinya itu hal rumit deh.
            “Fafa, maaf deh belum selesai tulisannya. Habisnya pusing sekali kepalaku harus menulis tentang cinta. Padahal aku sendiri gak paham jadi takut menulis.
            “Aku tidak percaya Nit, kamu aja suka nulis terus, baca novel sana-sini. Mainkan lagu ini itu, masa iya nulis kata-kata begitu aja gak bisa.”
            “Masalahnya cinta itu gak sekolokan yang kamu fikirkan. Banyak tafsir dan maknanya. Makanya aku kemarin Tanya untuk siapa?”
            “Oh iya aku lupa. Pokoknya untuk seseorang yang spesial, ya cewek begitu.”
Nita hanya berdeham dan berjalan keluar ruang kelas.
            Tak tahu apa yang terbersit hingga aku seperti ini. Aneh dan aku merasa ada yang tidak biasa. Aku bukanlah ahli tafsir yang pandai mengartikan arti akan sebuah rasa. Tersenyum membuatku terasa lebih nyaman. Aku hanya anak baru yang masuk dunia drama. Kamu temanku, kamu sahabatku dan kamu … aku mengenalmu lama. Aku senang melihatmu, aku ingin selalu ada bersamamu. Tapi entah mengapa kini berbeda, salahakah ini? Aku hanya berdeham dan bertanya dalam hati, apa ini yang dimaksud cinta?
            “Yang seperti ini Fa?”Nita menyerahkan saat pulang sekolah
            “Hemm tidak ah, gak jadi saja. Tapi tunggu ini kamu curhat? Kok sepertinya hmmm”
            “Mulai deh, aku lagi malas membahas hal ini. Sudahlah, aku pulang duluan ya. Kalau tidak suka buang saja.”
            “Eh jangan, ya tidak apalah buat koleksi saja.”
Nita beranjak dari hadapan Fafa dengan wajah yang kusut.
            “Nita tunggu, aku menyukaimu. Benar-benar menyayangimu.”
            “(Balik badan) yang benar saja Fa? Kau pasti bercanda.”
            “Aku benar sungguh-sungguh mencintaimu Nita, mungkin aku gila dengan perkataanku ini dan kau juga tidak bisa menerimanya. Aku tidak pernah merasakan hal aneh sebelumnya, membuatku takut, kadang senang akan tetapi lebih banyak senangnya saat melihat kau tersenyum. Kau merubah pola pikiranku tentang wanita, cinta, dan cita. Aku benar-benar mencintaimu Nita.”
Nita hanya berdiri seperti patung yang tersiram air es. Tak berbicara sepatah kata pun.
            “Aku tidak akan berpacaran dengan siapapun hingga aku berhasil”
            “Aku tidak memaksakan perasaanku ini Nita, cukup mengungkapkannya dan selebihnya biarkan waktu yang menjawab.” Beranjak pergi.