Anime dan Gitar
Kali
ini aku tak seberuntung hari biasanya. Bagaimana tidak aku harus jalan kaki
untuk berangkat les, kawan ku hari ini sakit jadi aku saja yang harus berjalan.
Aku memutar otak agar aku tidak berjalan lagi dikeesokan harinya. Mata ini
menyapu seisi kelas, dan Bingo aku dapat teman yang searah dengan tempat les
ku.
“Fafa, kamu sehabis pulang sekolah
mau langsung pulang?”
“Eh kamu panggil aku?” jawabnya.
“Ya iyalah Fafa, siapa lagi yang
namanya Fafa disini?”
Dia
hanya tertawa tanpa dosa. Aku meminta tolong kepadanya untuk mengantarku ke
tempat les. Kalau jalan lumayan buat seluruh badan berkeringat lah. Karena
memang sifatnya yang baik tentu saja aku diantarnya. Sepanjang perjalanan dia
tidak habis-habisnya bercerita anime itu keren, anime itu bagus dan ini itu
yang tak kupahami.
“Fafa kamu segitunya ya sama yang
namanya Anime?” tanyaku penasaran
“Yah begitu lah hanya untuk mengisi
kekosongan saja. Tapi tetap lama kelamaan jadi ritual wajib.”
“Apa ritualnya semacam mandi kembang
begitu juga ya?”
“Aduh Nita, kamu pura-pura tidak
tahu apa memang kamu yang kebangetan?” Tanyanya sebal.
Aku
menahan tawa mendengar jawaban dengan dengusan sebal. Setidaknya itu bisa
membuatnya mengganti topik pembicaraan yang sedikit aku pahami, teknologi.
Memang temanku yang satu ini benar-benar maniak dengan hal-hal semacam itu.
Ku mainkan gitar di teras rumah
sembari memandanggi rintik hujan yang luruh ke bumi, membasahi daratan
menghembuskan aroma tanah basah yang menenagkan. Selalu ritual ini yang
kulakukan ketika ku merenungkan sesuatu. Berbicara mengenai ritual aku teringat
akan Fafa, mungkin dia sama maniaknya sepertiku yang maniak akan bermain gitar
dan menghirup aroma tanah basah. Ku petikkan jemari hingga mengalun nada sendu,
“Ini bukan meratapi nasib, hanya butuh
suasana tenang” ujarku dalam hati.
“Lalu ceritanaya sedang apa sekarang?
Putus asa? Atau jatuh cinta?” ujar seseorang yang terdengar tak asing di
telingaku.
“Kak Indra? Kok bisa sampai sini?”
jawabku melonjak yang nyaris melempar gitar tersayangku.
“Eh eh kamu ini santai saja dong,
seperti melihat artis saja. Iya sih aku cukup memadai.” Memicingkan mata genit.
Aku
berlari kearahnya dan memandanginya tak percaya teman yang selama ini tak
pernah ku lihat dan selalu kutanyakan keberadaannya justru kini mendatangiku.
Aku hampir saja memukulnya karena merasa sebal, bagaimana bisa tanpa kabar selama
3 tahun.
“Apa kabar?” tanyanya
“Baik, tentu saja baik.” Jawab ku
penuh semangat.
“Harus selalu begitu bukan? Rasanya
aku ingin menjambak itu rambut kamu Kak.”
“Bagaimana kebiasaan burukmu itu
tidak pernah hilang. Selalu menganiaya orang, apa tidak kasihan sama anak
orang?”
“Humm tidak tuh.” Jawabku santai.
Aku
tertawa melihat ekspresi nya yang ketakutan saat aku mengatakan hal itu.
Bagaimana tidak, ia selalu menjadi korbanku dalam kondisi apapun. Begitulah
malam yang tak pernah ku sangka akan kehadiran teman sekaligus kakak yang cukup
menyenangkan. Hening, menyenangkan bermain gitar dia bernyanyi.
Kabar sahabat baruku tentu bertambah
baik saja, aku mulai senang mendengarkan ocehan tentang animenya itu. Terkadang
lucu melihat ekspresi dia sebal karena aku ketawakan. Itu dia masih beruntung.
Biasanya aku kalau tidak ketiduran ya
aku cuekin baca buku. Hari-hariku terasa sempurna masa itu, dimana ada seorang
pemusik yang selalu mendetingkan gitarnya untuk adik tercintanya dan teman
kocak yang selalu menceritakan kisah-kisah yang aku pahami dan kadang tidak aku
pahami juga.
“Hei kamu sedang apa?” Tanya Fafa.
“Memang yang kamu lihat apa Fa?
Jelas-jelas aku lagi main gitar.” Jawabku ketus.
“Yailah.. kan cuma bertanya saja, kok
kamu jawabnya begitu banget.”
“Hahaha Fafa, aku kan gak seriusan.
Memangnya kamu bisa main gitar.”
“Tentu saja, ya tapi masih tahap
belajar.”
“Kalau begitu aku juga masih belajar Fa.
Coba kamu main deh, aku mau denger orang pecinta anime seperti kamu bisa
memainkan lagu apa saja?”
“Yahh tapi kalau tidak bagus jangan di
ketawakan ya. Biasanya kan kamu begitu Nit.”
Aku
hanya mengangguk dan memberikan gitarku kepada Fafa. Dia terlihat gugup dan
mulai memetik dawai demi dawai. “Blamm” aku menganga di buatnya dengan lagu slow yang ia mainkan. Aku tahu lagu ini,
tapi tidak seperti yang aku bayangkan kalau aku yang menyanyikan. Sampai ia
selesai aku hanya terdiam.
“Hai Nita, kamu sehat kan? Nita”
Ujar Fafa melambai-lambaikan tangannya kearah wajahku membuyarkan kekaguman
ini.
“Oh hei ya, sehat kok Fa.”
“Tadi aku mainnya jelek ya? Kamu
sampai kesambet begitu?”
“Oh eh, bukan Fa. Kamu mainnya
keren. Justru lebih keren dari aku.”
“Yang benar saja Nit, aku saja
mainnya gerogi begitu. Takut diketawakan kamu Nit.”
Aku
hanya tersenyum melihat tingkahnya yang berkeringat dingin seperti hendak
mengikuti ujian.
Di lain waktu Kak Indra
menyambangiku lagi di saat aku sedang bermain gitar dan menyanyikan lagu
kesukaan ku.
“Malam Dek Nita. Boleh request
tidak?” Sapa Kak Indra.
“Eh, malam juga Kak, selalu saja
membuatku terkejut. Request? Memang aku ini radio minta request segala.”
“Sekali-kali deh, aku kan sudah lama
tidak mendengarkanmu menyanyi. Biar bisa tidur, habis insom terus.”
“Bagitu deh kelakuanmu Kak,
menyebalkan. Oke deh tapi jangan berisik, dengarkan saja.”
Kak
Indra hanya menganggukkan kepalanya dan menjadi pendengar yang baik untuk kali
ini. Dia banyak berubah, setahun lalu ia masih sangat senang menggangguku
ketika aku bermain gitar atau mengerjakan tugas. Aku sampai heran, seperti tak
ada kegiatan yang menyibukkan dia selain menggangguku. Dari cara ia
memandangku, memperlakukanku ah serasa teringat kejadian itu.
“Dek, mau tidak aku ajak ke toko
buku? Biasa anak kelas 3 harus banyak referensi begitu deh.” Pinta Kak Indra.
“Kak, yang benar saja. Aku besok ada
ujian harian matematika.”
“Ayolah dek, aku bingung kalau harus
ke toko buku dan hal-hal semacam itu. Tidak tahu mana yang harus kubeli pula.”
“Tapi ulangan hariannya bagaimana?”
“Yah itu urusan gampang kok, nanti
aku ajarin sepulang dari toko buku.”
“Siap rajanya matematika.”
Dia
hanya berdehem sebal dengan julukan yang aku berikan dan menggeret ku naik bus.
“Dek tahu tidak, kenapa aku paling
suka mengajakmu daripada adik aku sendiri?”
“Yaiyalah, adikmu kan masih berumur
7 tahun, tentu tidak bisa disuruh-suruh seperti aku kan. Disuruh bawa ini itu,
dan yah seperti biasa yang bisa di kibulin.”
“Bukan, karena aku nyaman kalau sama
kamu.” Jawab Kak Indra tegas.
Aku
tidak percaya dan mencoba memandangnya dengan tatapan tidak percaya dan heran.
“Nita, kok kamu berhenti sih main
gitarnya.”
“Yee aku juga ngantuk kali Kak,
lebih baik kamu pulang sana. Aku besok harus berangkat pagi-pagi.”
“Wah mulai berani mengusir nih.
Yasudahlah lagipula besok pagi aku juga harus kembali ke Yogyakarta lagi.
Santai untuk kali ini aku tidak akan pergi lama-lama kok.”
“Yee.. Pede banget si Kak, ya sudah
aku mau tidur, mengantuk.” Masuk kedalam rumah
Sembari berbaring diatas kasur aku
memandangi langit-langit kamar yang terkesan berbeda, apa karena Kak Indra atau
karena Fafa. Entahlah aku terasa takut dan ragu untuk menafsirkan ini semua.
Fafa, dia.. aku terkesan dengan caranya memainkan gitar dan kemahirannya yang
selalu membuat cerita lucu meski itu hanya aku saja yang tidak memahami cerita
itu sehingga aku merasa apa yang ia ceritakan terkesan lucu. Dan hari-hariku di
kelas dua ku ini tak tahu terasa menyenangkan dan mudah saja.
“Apa yang aku pikirkan ini? Kenapa
Fafa? Bagaimana bisa disaat Kak Indra sudah benar-benar ada di depan mata.
Tapi, entahlah.” Menutupkan bantal ke wajah.
Hal yang indah tak pernah di dapat
dengan mudah, hal yang baik tak di dapat dengan cara licik. Dan aku menyukai
sebuah proses yang dijalani pada setiap kehidupan, mengalir layaknya air terjun
yang meluruh begitu saja mengikuti arus air, melewati keras dan terjalnya batu
tapi mereka tetap memberi penghidupan hingga ke pelosok desa.
“Nita, ini kau yang membuat?” Ujar
Fafa yang tak sengaja menemukan kata-kata itu di dalam bukuku.”
“Kamu, yang mana? Kamu membaca
tulisan yang mana?”
“Yang ini kok. Itupun tidak aku
sengaja. Tapi bagus lho, aku suka.”
“Lhoh, kamu suka dan paham dengan
kata-kata seperti itu ya? Bukankah kamu?”
“Apa? Anak pecinta anime? Ya memang
di film dan komik-komik anime tidak mengandung pelajaran sama sekali? Justru
banyak kata-kata semacam itu Nita.”
“Wah aku baru tahu Fa, lagian kamu
kalau cerita hanya bagian yang seru saja sih.”
“Memangnya aku harus menceritakan
detailnya? Kalau mau tahu ya baca sendiri saja komiknya. Aku punya banyak di
rumah.”
“Wahh itu dia Fa, aku bingung kalau
harus baca komik. Tidak tahu cara membacanya.”
“Hahaha aku baru tahu ternyata
gara-gara tidak bisa cara membacanya bukan karena tidak suka?”
Aku hanya menyengir
dan melanjutkan menulis lagi. Tapi Fafa terus saja ingin tahu apa yang aku
tulis. Entah penyakit ingin tahunya yang besar membuat aku terkadang sebal dan
ingin menjitak kepalanya sesekali.
“Aku buatkan kata-kata dong Nita.”
“Haha untuk apa? Untuk siapa?”
“Kamu kan teman baik, pokoknya
tentang cinta-cinta begitulah.”
Aku hanya menatapnya
ragu dan heran. Apa yang ada dipikirannya hingga ia mengucapkan kata-kata yang
belum pernah aku dengar.
“Apa? Kamu ingin menyatakan perasaan
kepada cewek yang kamu suka?”
Fafa hanya tersenyum
dan menepuk pundakku dan berlalu ke tempat duduknya.
Pena ini kembali berputar di atas
kertas, aku pun tak tahu apa yang harus ku ukir di atas secarik kertas ini. Apa
yang sedang Fafa pikirkan hingga ingin aku menuliskan kata-kata tentang cinta.
Padahal aku saja tak paham apa itu cinta dan sepertinya itu hal rumit deh.
“Fafa, maaf deh belum selesai
tulisannya. Habisnya pusing sekali kepalaku harus menulis tentang cinta.
Padahal aku sendiri gak paham jadi takut menulis.
“Aku tidak percaya Nit, kamu aja
suka nulis terus, baca novel sana-sini. Mainkan lagu ini itu, masa iya nulis
kata-kata begitu aja gak bisa.”
“Masalahnya cinta itu gak sekolokan
yang kamu fikirkan. Banyak tafsir dan maknanya. Makanya aku kemarin Tanya untuk
siapa?”
“Oh iya aku lupa. Pokoknya untuk
seseorang yang spesial, ya cewek begitu.”
Nita hanya berdeham
dan berjalan keluar ruang kelas.
Tak tahu apa yang terbersit hingga
aku seperti ini. Aneh dan aku merasa ada yang tidak biasa. Aku bukanlah ahli
tafsir yang pandai mengartikan arti akan sebuah rasa. Tersenyum membuatku
terasa lebih nyaman. Aku hanya anak baru yang masuk dunia drama. Kamu temanku,
kamu sahabatku dan kamu … aku mengenalmu lama. Aku senang melihatmu, aku ingin
selalu ada bersamamu. Tapi entah mengapa kini berbeda, salahakah ini? Aku hanya
berdeham dan bertanya dalam hati, apa ini yang dimaksud cinta?
“Yang seperti ini Fa?”Nita
menyerahkan saat pulang sekolah
“Hemm tidak ah, gak jadi saja. Tapi
tunggu ini kamu curhat? Kok sepertinya hmmm”
“Mulai deh, aku lagi malas membahas
hal ini. Sudahlah, aku pulang duluan ya. Kalau tidak suka buang saja.”
“Eh jangan, ya tidak apalah buat
koleksi saja.”
Nita
beranjak dari hadapan Fafa dengan wajah yang kusut.
“Nita tunggu, aku menyukaimu.
Benar-benar menyayangimu.”
“(Balik badan) yang benar saja Fa?
Kau pasti bercanda.”
“Aku benar sungguh-sungguh mencintaimu
Nita, mungkin aku gila dengan perkataanku ini dan kau juga tidak bisa
menerimanya. Aku tidak pernah merasakan hal aneh sebelumnya, membuatku takut,
kadang senang akan tetapi lebih banyak senangnya saat melihat kau tersenyum.
Kau merubah pola pikiranku tentang wanita, cinta, dan cita. Aku benar-benar
mencintaimu Nita.”
Nita
hanya berdiri seperti patung yang tersiram air es. Tak berbicara sepatah kata pun.
“Aku tidak akan berpacaran dengan
siapapun hingga aku berhasil”
“Aku tidak memaksakan perasaanku ini
Nita, cukup mengungkapkannya dan selebihnya biarkan waktu yang menjawab.”
Beranjak pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar