Rabu, 31 Desember 2014

Cerpen Remaja



Anime dan Gitar

Kali ini aku tak seberuntung hari biasanya. Bagaimana tidak aku harus jalan kaki untuk berangkat les, kawan ku hari ini sakit jadi aku saja yang harus berjalan. Aku memutar otak agar aku tidak berjalan lagi dikeesokan harinya. Mata ini menyapu seisi kelas, dan Bingo aku dapat teman yang searah dengan tempat les ku.
            “Fafa, kamu sehabis pulang sekolah mau langsung pulang?”
            “Eh kamu panggil aku?” jawabnya.
            “Ya iyalah Fafa, siapa lagi yang namanya Fafa disini?”
Dia hanya tertawa tanpa dosa. Aku meminta tolong kepadanya untuk mengantarku ke tempat les. Kalau jalan lumayan buat seluruh badan berkeringat lah. Karena memang sifatnya yang baik tentu saja aku diantarnya. Sepanjang perjalanan dia tidak habis-habisnya bercerita anime itu keren, anime itu bagus dan ini itu yang tak kupahami.
            “Fafa kamu segitunya ya sama yang namanya Anime?” tanyaku penasaran
            “Yah begitu lah hanya untuk mengisi kekosongan saja. Tapi tetap lama kelamaan jadi ritual wajib.”
            “Apa ritualnya semacam mandi kembang begitu juga ya?”
            “Aduh Nita, kamu pura-pura tidak tahu apa memang kamu yang kebangetan?” Tanyanya sebal.
Aku menahan tawa mendengar jawaban dengan dengusan sebal. Setidaknya itu bisa membuatnya mengganti topik pembicaraan yang sedikit aku pahami, teknologi. Memang temanku yang satu ini benar-benar maniak dengan hal-hal semacam itu.
            Ku mainkan gitar di teras rumah sembari memandanggi rintik hujan yang luruh ke bumi, membasahi daratan menghembuskan aroma tanah basah yang menenagkan. Selalu ritual ini yang kulakukan ketika ku merenungkan sesuatu. Berbicara mengenai ritual aku teringat akan Fafa, mungkin dia sama maniaknya sepertiku yang maniak akan bermain gitar dan menghirup aroma tanah basah. Ku petikkan jemari hingga mengalun nada sendu,
“Ini bukan meratapi nasib, hanya butuh suasana tenang” ujarku dalam hati.
“Lalu ceritanaya sedang apa sekarang? Putus asa? Atau jatuh cinta?” ujar seseorang yang terdengar tak asing di telingaku.
“Kak Indra? Kok bisa sampai sini?” jawabku melonjak yang nyaris melempar gitar tersayangku.
“Eh eh kamu ini santai saja dong, seperti melihat artis saja. Iya sih aku cukup memadai.” Memicingkan mata genit.
Aku berlari kearahnya dan memandanginya tak percaya teman yang selama ini tak pernah ku lihat dan selalu kutanyakan keberadaannya justru kini mendatangiku. Aku hampir saja memukulnya karena merasa sebal, bagaimana bisa tanpa kabar selama 3 tahun.
            “Apa kabar?” tanyanya
            “Baik, tentu saja baik.” Jawab ku penuh semangat.
            “Harus selalu begitu bukan? Rasanya aku ingin menjambak itu rambut kamu Kak.”
            “Bagaimana kebiasaan burukmu itu tidak pernah hilang. Selalu menganiaya orang, apa tidak kasihan sama anak orang?”
            “Humm tidak tuh.” Jawabku santai.
Aku tertawa melihat ekspresi nya yang ketakutan saat aku mengatakan hal itu. Bagaimana tidak, ia selalu menjadi korbanku dalam kondisi apapun. Begitulah malam yang tak pernah ku sangka akan kehadiran teman sekaligus kakak yang cukup menyenangkan. Hening, menyenangkan bermain gitar dia bernyanyi.
Kabar sahabat baruku tentu bertambah baik saja, aku mulai senang mendengarkan ocehan tentang animenya itu. Terkadang lucu melihat ekspresi dia sebal karena aku ketawakan. Itu dia masih beruntung. Biasanya aku  kalau tidak ketiduran ya aku cuekin baca buku. Hari-hariku terasa sempurna masa itu, dimana ada seorang pemusik yang selalu mendetingkan gitarnya untuk adik tercintanya dan teman kocak yang selalu menceritakan kisah-kisah yang aku pahami dan kadang tidak aku pahami juga.
“Hei kamu sedang apa?” Tanya Fafa.
“Memang yang kamu lihat apa Fa? Jelas-jelas aku lagi main gitar.” Jawabku ketus.
“Yailah.. kan cuma bertanya saja, kok kamu jawabnya begitu banget.”
“Hahaha Fafa, aku kan gak seriusan. Memangnya kamu bisa main gitar.”
“Tentu saja, ya tapi masih tahap belajar.”
“Kalau begitu aku juga masih belajar Fa. Coba kamu main deh, aku mau denger orang pecinta anime seperti kamu bisa memainkan lagu apa saja?”
“Yahh tapi kalau tidak bagus jangan di ketawakan ya. Biasanya kan kamu begitu Nit.”
Aku hanya mengangguk dan memberikan gitarku kepada Fafa. Dia terlihat gugup dan mulai memetik dawai demi dawai. “Blamm” aku menganga di buatnya dengan lagu slow yang ia mainkan. Aku tahu lagu ini, tapi tidak seperti yang aku bayangkan kalau aku yang menyanyikan. Sampai ia selesai aku hanya terdiam.
            “Hai Nita, kamu sehat kan? Nita” Ujar Fafa melambai-lambaikan tangannya kearah wajahku membuyarkan kekaguman ini.
            “Oh hei ya, sehat kok Fa.”
            “Tadi aku mainnya jelek ya? Kamu sampai kesambet begitu?”
            “Oh eh, bukan Fa. Kamu mainnya keren. Justru lebih keren dari aku.”
            “Yang benar saja Nit, aku saja mainnya gerogi begitu. Takut diketawakan kamu Nit.”
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang berkeringat dingin seperti hendak mengikuti ujian.
            Di lain waktu Kak Indra menyambangiku lagi di saat aku sedang bermain gitar dan menyanyikan lagu kesukaan ku.
            “Malam Dek Nita. Boleh request tidak?” Sapa Kak Indra.
            “Eh, malam juga Kak, selalu saja membuatku terkejut. Request? Memang aku ini radio minta request segala.”
            “Sekali-kali deh, aku kan sudah lama tidak mendengarkanmu menyanyi. Biar bisa tidur, habis insom terus.”
            “Bagitu deh kelakuanmu Kak, menyebalkan. Oke deh tapi jangan berisik, dengarkan saja.”
Kak Indra hanya menganggukkan kepalanya dan menjadi pendengar yang baik untuk kali ini. Dia banyak berubah, setahun lalu ia masih sangat senang menggangguku ketika aku bermain gitar atau mengerjakan tugas. Aku sampai heran, seperti tak ada kegiatan yang menyibukkan dia selain menggangguku. Dari cara ia memandangku, memperlakukanku ah serasa teringat kejadian itu.
            “Dek, mau tidak aku ajak ke toko buku? Biasa anak kelas 3 harus banyak referensi begitu deh.” Pinta Kak Indra.
            “Kak, yang benar saja. Aku besok ada ujian harian matematika.”
            “Ayolah dek, aku bingung kalau harus ke toko buku dan hal-hal semacam itu. Tidak tahu mana yang harus kubeli pula.”
            “Tapi ulangan hariannya bagaimana?”
            “Yah itu urusan gampang kok, nanti aku ajarin sepulang dari toko buku.”
            “Siap rajanya matematika.”
Dia hanya berdehem sebal dengan julukan yang aku berikan dan menggeret ku naik bus.
            “Dek tahu tidak, kenapa aku paling suka mengajakmu daripada adik aku sendiri?”
            “Yaiyalah, adikmu kan masih berumur 7 tahun, tentu tidak bisa disuruh-suruh seperti aku kan. Disuruh bawa ini itu, dan yah seperti biasa yang bisa di kibulin.”
            “Bukan, karena aku nyaman kalau sama kamu.” Jawab Kak Indra tegas.
Aku tidak percaya dan mencoba memandangnya dengan tatapan tidak percaya dan heran.
            “Nita, kok kamu berhenti sih main gitarnya.”
            “Yee aku juga ngantuk kali Kak, lebih baik kamu pulang sana. Aku besok harus berangkat pagi-pagi.”
            “Wah mulai berani mengusir nih. Yasudahlah lagipula besok pagi aku juga harus kembali ke Yogyakarta lagi. Santai untuk kali ini aku tidak akan pergi lama-lama kok.”
            “Yee.. Pede banget si Kak, ya sudah aku mau tidur, mengantuk.” Masuk kedalam rumah
            Sembari berbaring diatas kasur aku memandangi langit-langit kamar yang terkesan berbeda, apa karena Kak Indra atau karena Fafa. Entahlah aku terasa takut dan ragu untuk menafsirkan ini semua. Fafa, dia.. aku terkesan dengan caranya memainkan gitar dan kemahirannya yang selalu membuat cerita lucu meski itu hanya aku saja yang tidak memahami cerita itu sehingga aku merasa apa yang ia ceritakan terkesan lucu. Dan hari-hariku di kelas dua ku ini tak tahu terasa menyenangkan dan mudah saja.
            “Apa yang aku pikirkan ini? Kenapa Fafa? Bagaimana bisa disaat Kak Indra sudah benar-benar ada di depan mata. Tapi, entahlah.” Menutupkan bantal ke wajah.
            Hal yang indah tak pernah di dapat dengan mudah, hal yang baik tak di dapat dengan cara licik. Dan aku menyukai sebuah proses yang dijalani pada setiap kehidupan, mengalir layaknya air terjun yang meluruh begitu saja mengikuti arus air, melewati keras dan terjalnya batu tapi mereka tetap memberi penghidupan hingga ke pelosok desa.
            “Nita, ini kau yang membuat?” Ujar Fafa yang tak sengaja menemukan kata-kata itu di dalam bukuku.”
            “Kamu, yang mana? Kamu membaca tulisan yang mana?”
            “Yang ini kok. Itupun tidak aku sengaja. Tapi bagus lho, aku suka.”
            “Lhoh, kamu suka dan paham dengan kata-kata seperti itu ya? Bukankah kamu?”
            “Apa? Anak pecinta anime? Ya memang di film dan komik-komik anime tidak mengandung pelajaran sama sekali? Justru banyak kata-kata semacam itu Nita.”
            “Wah aku baru tahu Fa, lagian kamu kalau cerita hanya bagian yang seru saja sih.”
            “Memangnya aku harus menceritakan detailnya? Kalau mau tahu ya baca sendiri saja komiknya. Aku punya banyak di rumah.”
            “Wahh itu dia Fa, aku bingung kalau harus baca komik. Tidak tahu cara membacanya.”
            “Hahaha aku baru tahu ternyata gara-gara tidak bisa cara membacanya bukan karena tidak suka?”
Aku hanya menyengir dan melanjutkan menulis lagi. Tapi Fafa terus saja ingin tahu apa yang aku tulis. Entah penyakit ingin tahunya yang besar membuat aku terkadang sebal dan ingin menjitak kepalanya sesekali.
            “Aku buatkan kata-kata dong Nita.”
            “Haha untuk apa? Untuk siapa?”
            “Kamu kan teman baik, pokoknya tentang cinta-cinta begitulah.”
Aku hanya menatapnya ragu dan heran. Apa yang ada dipikirannya hingga ia mengucapkan kata-kata yang belum pernah aku dengar.
            “Apa? Kamu ingin menyatakan perasaan kepada cewek yang kamu suka?”
Fafa hanya tersenyum dan menepuk pundakku dan berlalu ke tempat duduknya.
            Pena ini kembali berputar di atas kertas, aku pun tak tahu apa yang harus ku ukir di atas secarik kertas ini. Apa yang sedang Fafa pikirkan hingga ingin aku menuliskan kata-kata tentang cinta. Padahal aku saja tak paham apa itu cinta dan sepertinya itu hal rumit deh.
            “Fafa, maaf deh belum selesai tulisannya. Habisnya pusing sekali kepalaku harus menulis tentang cinta. Padahal aku sendiri gak paham jadi takut menulis.
            “Aku tidak percaya Nit, kamu aja suka nulis terus, baca novel sana-sini. Mainkan lagu ini itu, masa iya nulis kata-kata begitu aja gak bisa.”
            “Masalahnya cinta itu gak sekolokan yang kamu fikirkan. Banyak tafsir dan maknanya. Makanya aku kemarin Tanya untuk siapa?”
            “Oh iya aku lupa. Pokoknya untuk seseorang yang spesial, ya cewek begitu.”
Nita hanya berdeham dan berjalan keluar ruang kelas.
            Tak tahu apa yang terbersit hingga aku seperti ini. Aneh dan aku merasa ada yang tidak biasa. Aku bukanlah ahli tafsir yang pandai mengartikan arti akan sebuah rasa. Tersenyum membuatku terasa lebih nyaman. Aku hanya anak baru yang masuk dunia drama. Kamu temanku, kamu sahabatku dan kamu … aku mengenalmu lama. Aku senang melihatmu, aku ingin selalu ada bersamamu. Tapi entah mengapa kini berbeda, salahakah ini? Aku hanya berdeham dan bertanya dalam hati, apa ini yang dimaksud cinta?
            “Yang seperti ini Fa?”Nita menyerahkan saat pulang sekolah
            “Hemm tidak ah, gak jadi saja. Tapi tunggu ini kamu curhat? Kok sepertinya hmmm”
            “Mulai deh, aku lagi malas membahas hal ini. Sudahlah, aku pulang duluan ya. Kalau tidak suka buang saja.”
            “Eh jangan, ya tidak apalah buat koleksi saja.”
Nita beranjak dari hadapan Fafa dengan wajah yang kusut.
            “Nita tunggu, aku menyukaimu. Benar-benar menyayangimu.”
            “(Balik badan) yang benar saja Fa? Kau pasti bercanda.”
            “Aku benar sungguh-sungguh mencintaimu Nita, mungkin aku gila dengan perkataanku ini dan kau juga tidak bisa menerimanya. Aku tidak pernah merasakan hal aneh sebelumnya, membuatku takut, kadang senang akan tetapi lebih banyak senangnya saat melihat kau tersenyum. Kau merubah pola pikiranku tentang wanita, cinta, dan cita. Aku benar-benar mencintaimu Nita.”
Nita hanya berdiri seperti patung yang tersiram air es. Tak berbicara sepatah kata pun.
            “Aku tidak akan berpacaran dengan siapapun hingga aku berhasil”
            “Aku tidak memaksakan perasaanku ini Nita, cukup mengungkapkannya dan selebihnya biarkan waktu yang menjawab.” Beranjak pergi.

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar