Rabu, 31 Desember 2014

Cerpen anak-anak



Gadis Berkepang Dua


            Gadis kecil nan periang itu berlari mengejar kupu-kupu dan capung, dari kejauhan Sang ibu hanya mampu memandangnya sambil tersenyum. Tak jarang Ia mengajak kawannya untuk berkejaran dan membuat pertandingan aneh. Gadis kecil ini juga sering membuat sang ibu kerepotan menjawab pertanyaan demi pertaanyaan yang disampaikan putrinya ini. Ibu ini apa? Atau Ibu itu untuk apa? Dan bagaimana bisa terjadi hal itu? Namun ini menjadi hal yang menarik.
            “Ibu, aku lelah. Aku istirahat sebentar ya Bu. Oh lihat burung-burung itu, indah sekali. Dan lihat itu Bu, senja kali ini sangat menyejukkan.” Ujar anaknya.
            “Iya Nak, senja kali ini indah sekali. Ingin pulang sekarang?”
            “Tidak, sebentar Bu. Oh ya, kenapa senjanya cepat berlalu, bukankah hal indah seperti ini jarang terjadi? Lalu kenapa pula burung-burung diatas terlihat takut, bukankah mereka sudah aman?”
            “Pelan-pelan Nak, ibu bingung harus menjawab bagian mana terlebih dahulu. Mengapa banyak pertanyaan dari mulut kecilmu ini sayang.” Sembari mencubit lembut bibir anaknya.
"Ibu, kenapa langit itu biru? tapi ketika malam berubah menjadi gelap?" Tanya anaknya.
“Tahukah Nak, semuanya tentu harus seimbang. Ada terang ada gelap, ada matahari ada bulan, ada laki-laki ada wanita, ada senang juga ada sedih.”
“Benarkah Bu? Bukankah seharusnya kita selalu tersenyum, seperti aku ini,” Menyeringai menunjukkan giginya yang tak genap.
“Suatu hari kau pasti akan paham apa maksud ibu. Lihat banya burung kecil yang cantik dan banyak sekali.”
“Wah iya, aku akan terbang Bu. Suatu hari nanti.”
“Tentu kamu bisa Nak, kau pasti bisa terbang,” membelai rambut anaknya.
“Ibu Pasti bergurau, kaki ku kan pendek. Maksimal aku hanya bisa melompat Bu.”
“Suatu hari sayang, bagaimana kalau kita minum coklat panas? Sepertinya senja sudah hampir menghilang.”
Gadis kecil itu mengangguk setuju dan berlari memasuki rumah.
Seiring perputaran waktu dan hilir mudik angin semuanya beradaptasi. Membayangkan masa kanak-kanak dan menelaahnya saat kita memahami arti dari apa yang telah dilakukan maupun yang dilakukan orang lain pada kita. Meski itu hanya ocehan dan perilaku yang kanak-kanak, justru itu yang melekat dihati.
Suatu sore yang pekat gadis kecil itu berlari. Ia lari penuh arti dan tidak ingin melewatkan yang satu ini.
“Hei, bisakah kamu menungguku? Aku terlalu lelah untuk berlari menyusulmu.”
“Ayolah, ini terlalu mudah untuk gadis sepertimu. Kamu kan pelari.”
“Hei aku kan hanya sekedar pelari untuk mengejar kupu-kupu dan capung. Tapi kalau ini bukankah permainan laki-laki.”
“Apa bedanya? Ini lebih menyenangkan bukan. Ayolah, ini hampir sampai,” ujar Tiar.
Gadis kecil itu mengejar ketertinggalannya hingga rintik air menghentikan langkah mereka. Hujan perlahan, angin berhembus dan untuk kali ini awan benar-benar tak bersahabat. Gadis kecil itu berteriak memanggil Tiar yang belum jauh darinya.
            “Tiar, ayolah kita pulang saja. Ini bisa membuat kita sakit, aku juga takut dengan kilat.”
            “Baiklah, tapi kita ambil daun pisang dahulu ya?” sembari menarik tangan temannya.
Gadis kecil itu mengikuti Tiar di belakangnya, walau Ia sudah basah kuyup. Setibanya di rumah, ibu gadis kecil itu menghawatirkan keadaan anaknya.
            “Nak, kamu dari mana saja? Apa kau menyukai permainan hari ini?” Tanya ibunya sembari tersenyum.
            “Ibu, apa ibu tidak marah dengan keadaanku yang basah kuyup seperti ini karena bermain?”
Pertanyaan yang muncul dari anaknya membuat Sang Ibu tersenyum. Beliau justru memberikan handuk untuk Tiar dan anaknya.
“Bagaimana ibu mau marah, kau terlihat menikmatinya. Bahkan kalihatannya Tiar juga demikian, benar kan Nak Tiar? Terima kasih juga sudah mengantar Nina pulang.”
Tiar hanya tersenyum dan mengangguk takut.
            “Sama-sama Bu, lagi pula dia sangat bersemangat, jadi aku mengajaknya. Apakah Ibu tidak marah?”
            “Tentu saja tidak, apapun yang dilakukan anak di seusia kalian pastilah murni keinginan hati. Bukanlah hal-hal palsu, berpura-pura. Kalian lebih tahu mana yang manis dan pahit.”
            “Tentu Bu, aku kan lebih suka coklat daripada pare, itu sangat pahit.”
            “Nak Tiar, kalian tahu tidak mengapa kalian basah dan berlari pulang?”
            “Tentu Bu, karena hujan dan Nina takut akan angin dan juga petir
            “Nah, sama halnya dengan manis dan pahit. Kalau kalian merasa pahit kalian akan mencari hal yang manis.”
Mereka saling memandang dan bingung hingga Tiar berpamitan untuk pulang.
Kenangan akan ilmu tak lekang oleh hilangnya seseorang. Meski waktu tak sama lagi, meski dunia tak sama lagi dan meski telah beranjak dewasa. Terkadang menggunakan cara lama adalah cara yang baik.
            Suatu siang dimana gadis itu berumur 10 tahun, ia berbaring di pangkuan ibunya dan lagi gadis itu bertanya pada sang ibu.
            “Ibu kalau aku besar nanti apa semuanya tetap menyenagkan seperti ini?”
            “Tentu saja, kalau kau merasa senang, maka semuanya juga akan menyenangkan.”
            “Tapi terkadang aku juga menangis dan marah apabila ada temanku yang jail Bu,” ujar Nina.
            “Nak, kamu ingin dikuncir seperti apa? Rambutmu ini membingungkan.”
Gadis itu hanya memandang ibunya dan mengatakan ingin dikuncir yang sederhana saja. Namun belum lama gadis itu meminta untuk dikuncir, ia meminta ibunya untuk mengepang.
            “Lebih sederhana kepang Bu, aku tidak suka di aneh-aneh,” bangkit dari berbaringnya.
            “Nah sama halnya, kalau kamu ingin marah, menangis karena suatu hal tidak apa-apa, asalkan jangan berlarut-larut. Cepat tuntaskan dan rapikan hatimu dengan caramu supaya tidak cepat kusut seperti rambut ini Nak.”
            “Hah, apa yang kusut ibu. Aku tidak paham maksud ibu.”
            “Suatu saat kau akan mengerti Nak, cepat kita kuncir rambutmu.”
            Belum lagi pertanyaan lucu ketika beranjak remaja terkadang membingungkan
            “Ibu apa aku ini tidak cantik?” Tanya anaknya
            “Kenapa kamu berbicara seperti itu sayang? Lebih baik kita menikmati hujan malam ini.”
            “Ibu aku ini hampir 15 tahun, tapi mengapa …” tidak meneruskan perkataanya.
            “Nak semua wanita itu cantik, dan kamu cukup cantik bagi ibu. Kamu baik, penurut, sopan. Apa ada kecantikan yang kurang dari dirimu Nak?”
            “Entahlah Bu, aku hanya merasa dikucilkan oleh teman-teman.”
            “Kamu hanya perlu membiasakan diri dengan perilaku mereka. Kamu adalah anak yang beruntung, saat kau menyadarinya mungkin kamu telah jaun dari ibu.”
            “Ibu jangan berbicara seperti itu, aku akan cepat menyadarinya Bu,” gadis kecil kini telah beranjak remaja dan mulai mencermati setiap tanya hati yang dijawab ibunya.
            Saat kehidupan memutarmu pada posisi ini terkadang kita terlalu cepat menafsirkannya, sehingga seringkali terjebak pada permainan hati. Dimana menyadari beberapa hal, apa yang telah terjadi sekali tidak akan terulang untuk kedua kalinya.
            “Ibu, Tiar akan pindah minggu depan. Nanti kalau aku merindukannya bagaimana?”
            “Nak, kamu khawatir akan apa? Kalian masih bisa berkomunikasi dengan surat bukan?”
            “Iya Bu, tapi tetap saja. Aku tidak tahu harus memberinya apa?” Nina merasa ini terlalu cepat.
            “Temui dia sayang, katakan apa yang ingin kamu katakan sebelum dia pergi.”
Tanpa berpikir lagi, gadis itu berlari ketanah lapang dan menemukan Tiar sedang bermain gundu.
            “Tiar, kamu benar ingin pindah? Kenapa cepat sekali?”
            “Nina, kamu kenapa basah kuyup seperti dikejar setan? Kamu duduk dulu deh ya.”
            “Baiklah, tapi aku hanya ingin memberikan ini,” memberi Tiar sebuah gantungan kunci.
Begitu pula dengan Tiar yang member gantungan kunci Micky Mouse. Mereka tertawa dan melanjutkan permainan.
            Gadis itu lebih memilih tak menghadiri pesta kepindahan Tiar. Entah apa yang gadis itu pikirkan, Ia hanya tidak ingin melihat perpisahan itu. Namun tidak terelakan bahwa gadis itu menyesal tidak melepas kepergian sang sahabat.
            Begitulah penyesalan datang, dan keinginan untuk memutar waktu muncul yang telah terbukti itu tidak mungkin. Meski langkahnya mundur sekuat tenaga.
            Lika-liku hidup memang menyenangkan. Kau berlari kemari mengejar kupu-kupu dan capung. Tak lama setelah itu kau berlari karena menangis dan kacau. Seiring waktu bergulir berlari untuk kekhawatiran. Tapi kini gadis itu beranjak dewasa. Ia tidak lagi berlarian dengan senyuman ketakutan, ia berlari dengan pasti.
            Tanpa disadari sang ibu memberikan banyak jawaban disaat Ia belum membutuhkannya. Dan kini ia hanya perlu mengingat bagaimana mengepang rambut agar tidak kusut. Merasakan pare yang pahit hingga bisa menikmati manisnya coklat. Dan mengatakan yang seharusnya dikatakan dan melakukan hal yang ingin ia lakukan.
            “Ibu, lihatlah bintang diatas sana. Indah sekali. Kini aku mengerti mengapa ibu mengatakan semuanya membutuhkan keseimbangan. Bagaimana mungkin aku melihat senja sepanjang waktu, tentu aku akan melewatkan pemandangan indah ini seumur hidupku. Bagaimana aku hanya bisa melompat kalau aku bisa terbang setinggi awan untuk mewujudkan segala mimpi dan harapan ibu.”
            “Aku juga merasa beruntung karena aku tidak cantik secara fisik seutuhnya. Karena aku melihat dunia yang penuh dengan kecantikan ini menyimpan hal buruk yang menakutkan di dalamnya. Lihatlah ibu, siapa yang telah terbangun dari pertanyaan kanak-kanak dan memahaminya satu persatu. Aku berhasil Bu.” Nina tersenyum mengingat hal-hal yang ingin dipahaminya sejak dulu.
Gadis kecil periang pecinta lari kini telah dewasa dengan pemahaman yang baik akan ucapan ibunya. Terkadang ucapan kecil terlewatkan begitu saja bersama lalu lalang dunia hura-hura. Mementingkan apa kata orang tapi tak mementingkan wejangan dari orang yang benar mengerti kita.
            Gadis berkepang dua, simbol kecil untuk anak lugu yang memulai kehidupan baru dengan apa adanya, dengan sejuta pertanyaan hidup di dalamnya. Saat fase ini dimana hal sepele adalah hal yang sangat dirindukan semua orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar