Gadis Berkepang Dua
Gadis kecil nan periang itu berlari
mengejar kupu-kupu dan capung, dari kejauhan Sang ibu hanya mampu memandangnya
sambil tersenyum. Tak jarang Ia mengajak kawannya untuk berkejaran dan membuat
pertandingan aneh. Gadis kecil ini juga sering membuat sang ibu kerepotan
menjawab pertanyaan demi pertaanyaan yang disampaikan putrinya ini. Ibu ini
apa? Atau Ibu itu untuk apa? Dan bagaimana bisa terjadi hal itu? Namun ini
menjadi hal yang menarik.
“Ibu, aku lelah. Aku istirahat
sebentar ya Bu. Oh lihat burung-burung itu, indah sekali. Dan lihat itu Bu,
senja kali ini sangat menyejukkan.” Ujar anaknya.
“Iya Nak, senja kali ini indah
sekali. Ingin pulang sekarang?”
“Tidak, sebentar Bu. Oh ya, kenapa
senjanya cepat berlalu, bukankah hal indah seperti ini jarang terjadi? Lalu
kenapa pula burung-burung diatas terlihat takut, bukankah mereka sudah aman?”
“Pelan-pelan Nak, ibu bingung harus
menjawab bagian mana terlebih dahulu. Mengapa banyak pertanyaan dari mulut
kecilmu ini sayang.” Sembari mencubit lembut bibir anaknya.
"Ibu, kenapa langit itu biru? tapi
ketika malam berubah menjadi gelap?" Tanya anaknya.
“Tahukah Nak, semuanya tentu harus
seimbang. Ada terang ada gelap, ada matahari ada bulan, ada laki-laki ada
wanita, ada senang juga ada sedih.”
“Benarkah Bu? Bukankah seharusnya kita
selalu tersenyum, seperti aku ini,” Menyeringai menunjukkan giginya yang tak
genap.
“Suatu hari kau pasti akan paham apa
maksud ibu. Lihat banya burung kecil yang cantik dan banyak sekali.”
“Wah iya, aku akan terbang Bu. Suatu
hari nanti.”
“Tentu kamu bisa Nak, kau pasti bisa
terbang,” membelai rambut anaknya.
“Ibu Pasti bergurau, kaki ku kan pendek.
Maksimal aku hanya bisa melompat Bu.”
“Suatu hari sayang, bagaimana kalau kita
minum coklat panas? Sepertinya senja sudah hampir menghilang.”
Gadis
kecil itu mengangguk setuju dan berlari memasuki rumah.
Seiring perputaran waktu dan hilir mudik
angin semuanya beradaptasi. Membayangkan masa kanak-kanak dan menelaahnya saat
kita memahami arti dari apa yang telah dilakukan maupun yang dilakukan orang
lain pada kita. Meski itu hanya ocehan dan perilaku yang kanak-kanak, justru
itu yang melekat dihati.
Suatu sore yang pekat gadis kecil
itu berlari. Ia lari penuh arti dan tidak ingin melewatkan yang satu ini.
“Hei, bisakah kamu menungguku? Aku
terlalu lelah untuk berlari menyusulmu.”
“Ayolah, ini terlalu mudah untuk
gadis sepertimu. Kamu kan pelari.”
“Hei aku kan hanya sekedar pelari
untuk mengejar kupu-kupu dan capung. Tapi kalau ini bukankah permainan
laki-laki.”
“Apa bedanya? Ini lebih
menyenangkan bukan. Ayolah, ini hampir sampai,” ujar Tiar.
Gadis kecil itu mengejar ketertinggalannya hingga
rintik air menghentikan langkah mereka. Hujan perlahan, angin berhembus dan
untuk kali ini awan benar-benar tak bersahabat. Gadis kecil itu berteriak
memanggil Tiar yang belum jauh darinya.
“Tiar,
ayolah kita pulang saja. Ini bisa membuat kita sakit, aku juga takut dengan
kilat.”
“Baiklah,
tapi kita ambil daun pisang dahulu ya?” sembari menarik tangan temannya.
Gadis kecil itu mengikuti Tiar di belakangnya, walau
Ia sudah basah kuyup. Setibanya di rumah, ibu gadis kecil itu menghawatirkan
keadaan anaknya.
“Nak,
kamu dari mana saja? Apa kau menyukai permainan hari ini?” Tanya ibunya sembari
tersenyum.
“Ibu,
apa ibu tidak marah dengan keadaanku yang basah kuyup seperti ini karena
bermain?”
Pertanyaan yang muncul dari anaknya
membuat Sang Ibu tersenyum. Beliau justru memberikan handuk untuk Tiar dan anaknya.
“Bagaimana ibu mau marah, kau
terlihat menikmatinya. Bahkan kalihatannya Tiar juga demikian, benar kan Nak
Tiar? Terima kasih juga sudah mengantar Nina pulang.”
Tiar hanya tersenyum dan mengangguk takut.
“Sama-sama
Bu, lagi pula dia sangat bersemangat, jadi aku mengajaknya. Apakah Ibu tidak
marah?”
“Tentu
saja tidak, apapun yang dilakukan anak di seusia kalian pastilah murni
keinginan hati. Bukanlah hal-hal palsu, berpura-pura. Kalian lebih tahu mana
yang manis dan pahit.”
“Tentu
Bu, aku kan lebih suka coklat daripada pare, itu sangat pahit.”
“Nak
Tiar, kalian tahu tidak mengapa kalian basah dan berlari pulang?”
“Tentu
Bu, karena hujan dan Nina takut akan angin dan juga petir
“Nah,
sama halnya dengan manis dan pahit. Kalau kalian merasa pahit kalian akan
mencari hal yang manis.”
Mereka saling memandang dan bingung hingga Tiar
berpamitan untuk pulang.
Kenangan akan ilmu tak lekang oleh
hilangnya seseorang. Meski waktu tak sama lagi, meski dunia tak sama lagi dan
meski telah beranjak dewasa. Terkadang menggunakan cara lama adalah cara yang
baik.
Suatu siang dimana gadis itu berumur
10 tahun, ia berbaring di pangkuan ibunya dan lagi gadis itu bertanya pada sang
ibu.
“Ibu kalau aku besar nanti apa
semuanya tetap menyenagkan seperti ini?”
“Tentu saja, kalau kau merasa
senang, maka semuanya juga akan menyenangkan.”
“Tapi terkadang aku juga menangis
dan marah apabila ada temanku yang jail Bu,” ujar Nina.
“Nak, kamu ingin dikuncir seperti
apa? Rambutmu ini membingungkan.”
Gadis
itu hanya memandang ibunya dan mengatakan ingin dikuncir yang sederhana saja.
Namun belum lama gadis itu meminta untuk dikuncir, ia meminta ibunya untuk
mengepang.
“Lebih sederhana kepang Bu, aku
tidak suka di aneh-aneh,” bangkit dari berbaringnya.
“Nah sama halnya, kalau kamu ingin
marah, menangis karena suatu hal tidak apa-apa, asalkan jangan berlarut-larut.
Cepat tuntaskan dan rapikan hatimu dengan caramu supaya tidak cepat kusut
seperti rambut ini Nak.”
“Hah, apa yang kusut ibu. Aku tidak
paham maksud ibu.”
“Suatu saat kau akan mengerti Nak,
cepat kita kuncir rambutmu.”
Belum lagi pertanyaan lucu ketika
beranjak remaja terkadang membingungkan
“Ibu apa aku ini tidak cantik?”
Tanya anaknya
“Kenapa kamu berbicara seperti itu
sayang? Lebih baik kita menikmati hujan malam ini.”
“Ibu aku ini hampir 15 tahun, tapi
mengapa …” tidak meneruskan perkataanya.
“Nak semua wanita itu cantik, dan
kamu cukup cantik bagi ibu. Kamu baik, penurut, sopan. Apa ada kecantikan yang
kurang dari dirimu Nak?”
“Entahlah Bu, aku hanya merasa dikucilkan
oleh teman-teman.”
“Kamu hanya perlu membiasakan diri
dengan perilaku mereka. Kamu adalah anak yang beruntung, saat kau menyadarinya
mungkin kamu telah jaun dari ibu.”
“Ibu jangan berbicara seperti itu,
aku akan cepat menyadarinya Bu,” gadis kecil kini telah beranjak remaja dan
mulai mencermati setiap tanya hati yang dijawab ibunya.
Saat kehidupan memutarmu pada posisi
ini terkadang kita terlalu cepat menafsirkannya, sehingga seringkali terjebak
pada permainan hati. Dimana menyadari beberapa hal, apa yang telah terjadi
sekali tidak akan terulang untuk kedua kalinya.
“Ibu, Tiar akan pindah minggu depan.
Nanti kalau aku merindukannya bagaimana?”
“Nak, kamu khawatir akan apa? Kalian
masih bisa berkomunikasi dengan surat bukan?”
“Iya Bu, tapi tetap saja. Aku tidak
tahu harus memberinya apa?” Nina merasa ini terlalu cepat.
“Temui dia sayang, katakan apa yang
ingin kamu katakan sebelum dia pergi.”
Tanpa
berpikir lagi, gadis itu berlari ketanah lapang dan menemukan Tiar sedang
bermain gundu.
“Tiar, kamu benar ingin pindah?
Kenapa cepat sekali?”
“Nina, kamu kenapa basah kuyup
seperti dikejar setan? Kamu duduk dulu deh ya.”
“Baiklah, tapi aku hanya ingin
memberikan ini,” memberi Tiar sebuah gantungan kunci.
Begitu
pula dengan Tiar yang member gantungan kunci Micky Mouse. Mereka tertawa dan melanjutkan permainan.
Gadis itu lebih memilih tak
menghadiri pesta kepindahan Tiar. Entah apa yang gadis itu pikirkan, Ia hanya
tidak ingin melihat perpisahan itu. Namun tidak terelakan bahwa gadis itu
menyesal tidak melepas kepergian sang sahabat.
Begitulah penyesalan datang, dan
keinginan untuk memutar waktu muncul yang telah terbukti itu tidak mungkin.
Meski langkahnya mundur sekuat tenaga.
Lika-liku hidup memang menyenangkan.
Kau berlari kemari mengejar kupu-kupu dan capung. Tak lama setelah itu kau
berlari karena menangis dan kacau. Seiring waktu bergulir berlari untuk
kekhawatiran. Tapi kini gadis itu beranjak dewasa. Ia tidak lagi berlarian
dengan senyuman ketakutan, ia berlari dengan pasti.
Tanpa disadari sang ibu memberikan
banyak jawaban disaat Ia belum membutuhkannya. Dan kini ia hanya perlu
mengingat bagaimana mengepang rambut agar tidak kusut. Merasakan pare yang
pahit hingga bisa menikmati manisnya coklat. Dan mengatakan yang seharusnya
dikatakan dan melakukan hal yang ingin ia lakukan.
“Ibu, lihatlah bintang diatas sana.
Indah sekali. Kini aku mengerti mengapa ibu mengatakan semuanya membutuhkan
keseimbangan. Bagaimana mungkin aku melihat senja sepanjang waktu, tentu aku
akan melewatkan pemandangan indah ini seumur hidupku. Bagaimana aku hanya bisa
melompat kalau aku bisa terbang setinggi awan untuk mewujudkan segala mimpi dan
harapan ibu.”
“Aku juga merasa beruntung karena
aku tidak cantik secara fisik seutuhnya. Karena aku melihat dunia yang penuh
dengan kecantikan ini menyimpan hal buruk yang menakutkan di dalamnya. Lihatlah
ibu, siapa yang telah terbangun dari pertanyaan kanak-kanak dan memahaminya
satu persatu. Aku berhasil Bu.” Nina tersenyum mengingat hal-hal yang ingin
dipahaminya sejak dulu.
Gadis
kecil periang pecinta lari kini telah dewasa dengan pemahaman yang baik akan
ucapan ibunya. Terkadang ucapan kecil terlewatkan begitu saja bersama lalu
lalang dunia hura-hura. Mementingkan apa kata orang tapi tak mementingkan wejangan dari orang yang benar mengerti
kita.
Gadis berkepang dua, simbol kecil
untuk anak lugu yang memulai kehidupan baru dengan apa adanya, dengan sejuta
pertanyaan hidup di dalamnya. Saat fase ini dimana hal sepele adalah hal yang
sangat dirindukan semua orang.
